AdminLTELogo
PPIH Kabupaten Kediri
Mohon Tunggu

Materi

User Image MENGGANTI NIAT ATAU TABDILUN NIYAT

Tabdilun niyat adalah mengubah niat dari ihram haji menjadi niat ihram umrah atau sebaliknya. Hal ini dibolehkan jika:


1. Jemaah terbentur halangan akibat perawatan kesehatan; misalnya sejak awal seorang jemaah berniat haji ifrad tapi karena kondisi kesehatannya menuntutnya segera mengakhiri ihram, dia dibolehkan mengubah niat ihram menjadi niat umrah dan jenis haji yang dia laksanakan berubah jadi haji tamattu’;


2. Jemaah terbentur halangan syar’i seperti haidh. Misalnya seorang jemaah perempuan berniat ihram umrah dari miqat tapi sesampai di Mekkah dia tidak bisa menyelesaikan umrahnya karena belum suci, sementara waktu wukuf sudah tiba, dalam kondisi ini dia bisa mengubah niat ihram umrahnya menjadi niat haji qiran.


Jemaah haji yang melakukan perubahan niat dikenakan DAM TARTIB DAN TA'DIL, yaitu:

- Menyembelih seekor kambing dan langsung menggunting (mencukur) rambut sebagai tahallul dari ihramnya.

- Jika tidak mampu, memberi makan kepada fakir miskin senilai harga kambing.

- Jika tidak mampu, berpuasa sebanyak hitungan jumlah mud (1 mud/675 gr/0.7 liter = 1 hari) yang dibeli dengan harga seekor kambing.


Waktu Pelaksanaannya:

Dilaksanakan di tempat ia tertahan atau setelah kembali ke kampung halaman.

User Image TALBIYAH

Pengertian Talbiyah

Talbiyah menurut bahasa artinya pemenuhan, jawaban, pengabulan terhadap sebuah panggilan dengan niat dan ikhlas. Menurut istilah, talbiyah berarti ungkapan kalimat yang  diucapkan untuk memenuhi panggilan Allah SWT dalam keadaan ihram haji atau umrah.


Hukum Membaca Talbiyah

Menurut Imam Abu Hanifah, hukum membaca talbiyah adalah syarat sah ih}ram. Menurut Imam Maliki, hukum membaca talbiyah wajib. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, hukum membaca talbiyah adalah sunat.

 

Waktu Membaca Talbiyah

Talbiyah  mulai  dibaca  setelah  niat  ihram  dari miqat, baik ihram haji maupun ihram umrah. Waktu berakhirnya bacaan talbiyah adalah:

a. Ketika orang yang berumrah hendak memulai tawaf bagi jemaah yang melakukan umrah;

b. Ketika orang yang berhaji telah selesai melontar Jamrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah bagi jemaah yang melaksanakan haji, lalu mengganti talbiyah dengan bacaan takbir.


Bacaan Talbiyah

Jemaah laki-laki membaca talbiyah dengan suara keras, sedangkan perempuan membaca talbiyah dengan suara pelan. Bacaan talbiyah adalah sebagai berikut :


لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ, اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ.


Labbaikalloohumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, laa syariika lak.


Artinya: 

"Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut   panggilan-Mu,   aku   sambut panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku  sambut  panggilan-Mu.  segala  puji, kemuliaan, dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."


Bacaan Shalawat


اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. 


Alloohumma shalli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad.


Artinya: 

"Ya Allah limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya."


Doa Sesudah Shalawat


اللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ, اللّٰهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. 


Alloohumma innaa nas-aluka ridhooka wal-jannata wana’uudzu bika min sakhothika wan-naar, rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wafil-aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar.


Artinya: 

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridhaan-Mu dan surga, kami berlindung pada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka."

User Image THAWAF

Pengertian Thawaf

Thawaf menurut bahasa berarti mengelilingi. Sedangkan menurut istilah berarti mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali putaran dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad.


Syarat Sah Thawaf

1. Suci dari hadas dan najis;

2. Menutup aurat;

3. Berada di dalam  Masjidil  Haram  termasuk di area perluasan pada lantai dua, tiga, atau empat, meskipun dengan posisi melebihi ketinggian Ka’bah dan terhalang antara dirinya dengan Ka’bah;

4. Memulai dari Hajar Aswad;

5. Ka’bah berada di sebelah kiri;

6. Di luar Ka’bah (tidak di dalam Hijir Ismail);

7. Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran;

8. Niat tersendiri, jika thawaf yang dia lakukan berdiri sendiri, tidak  terkait  dengan  haji  dan umrah.

 

Sunah-sunah Thawaf

1. Memegang Hajar Aswad, menciumnya, serta meletakkan jidat di atasnya pada awal thawaf. Namun semua sunah ini tidak dianjurkan bagi perempuan kecuali jika tempat thawaf lengang. Jika tidak memungkinkan, cukup semua itu dilakukan dengan isyarah melalui tangan kanan.

2. Membaca doa ma’tsur pada saat memulai thawaf setelah istilam sambil mengangkat tangan:

اَللّٰهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَ تَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ وَ وَفَاءً بِعَهْدِكَ وَ اتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

3. Melakukan ramal (berjalan cepat) bukan berlari bagi kaum lelaki dan tidak membuat lompatan pada putaran pertama sampai ketiga, dan berjalan biasa pada putaran selanjutnya;

4. Melakukan idhthiba’ bagi laki-laki, yaitu meletakkan bagian tengah selendang di bawah bahu kanan, sedangkan kedua ujungnya diletakkan di atas bahu kiri, sehingga bahu kanan terbuka dan bahu kiri tertutup;

5. Mendekat pada Ka’bah bagi kaum laki-laki jika sekeliling Ka’bah tidak dalam kondisi penuh sesak dan membuatnya menderita, sedangkan bagi kaum perempuan disunnahkan menjauh dari Ka’bah;

6. Berjalan kaki bagi yang mampu; bagi yang tidak mampu dapat menggunakan kursi roda atau skuter matik;

7. Mengusap rukun Yamani.


Macam-macam Thawaf

Thawaf ada lima macam yaitu thawaf rukun, thawaf qudum, thawaf sunat, dan thawaf wada’ dan thawaf nadzar.


1. Thawaf Rukun

Thawaf rukun ada dua, yaitu thawaf rukun haji yang disebut thawaf ifadhah atau thawaf ziyarah, dan thawaf rukun umrah.


2. Thawaf Qudum

Thawaf qudum merupakan penghormatan kepada Baitullah. Bagi jemaah yang melakukan haji ifrad atau qiran, hukum thawaf qudum adalah sunat, dilaksanakan di hari pertama kedatangannya di Mekkah. Bagi jemaah haji yg melakukan haji tamattu tidak disunahkan melakukan thawaf qudum karena thawaf qudum yang ia lakukan sudah termasuk di dalam thawaf umrah.


3. Thawaf Sunnah

Thawaf sunnah adalah thawaf yang dikerjakan dalam setiap kesempatan masuk ke Masjidil Haram dan tidak diikuti dengan sa’i.

 

4. Thawaf Wada’

Thawaf wada’ merupakan penghormatan akhir kepada baitullah. Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan kebanyakan ulama, hukum thawaf wada’ adalah wajib bagi jamaah haji yang akan meninggalkan Makkah. Jemaah yang meninggalkan thawaf wada’ dikenakan dam satu ekor kambing berdasarkan hadis Riwayat Bukhari Muslim bahwa Nabi SAW memberikan rukhshah (keringanan) kepada perempuan yang haid untuk tidak thawaf wada’.


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ : أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ, إلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

Berdasar hadist ini disimpulkan bahwa hukum thawaf   wada’   adalah   wajib   sebab   rukhshah hanya berlaku dalam hal yang wajib. Perempuan  yang haid atau nifas tidak diwajibkan melakukan thawaf wada’. Penghormatan kepada Baitullah cukup dilakukan dengan berdoa di depan pintu gerbang Masjid  al-haram. Menurut pendapat Imam Malik, Dawud, dan Ibnu Mundzir, hukum thawaf wada’ adalah sunah. Seseorang yang tidak mengerjakan thawaf wada’ tidak diharuskan membayar dam. Menurut Imam Malik, orang sakit atau użur dapat mengikuti pendapat ini.


5. Thawaf Nazar

Thawaf nazar hukumnya wajib dikerjakan dan waktunya kapan saja.


Thawaf bagi Jemaah Uzur

Jemaah uzur atau sakit dapat melakukan thawaf dengan kursi roda di lantai satu, lantai dua, atau lantai empat. Kursi roda bisa dibawa sendiri oleh jemaah atau menyewanya berikut biaya jasa pendorong. Jemaah uzur atau sakit juga dapat melakukan thawaf dan sa’i dengan menggunakan ‘arabah kahrubaaiyyah (skuter matik) roda empat bertenaga baterai. Penggunaan fasilitas ini dilakukan dengan cara menyewa dan disediakan. Fasilitas ini disediakan secara khusus di lantai tiga mezzanine.

Tidak ada perbedaan di kalangan para ahli fikih tentang diperbolehkannya jemaah udzur, lansia atau sakit, melakukan thawaf dengan menggunakan kursi roda atau skuter. 

Menurut Syafi’iyah, thawaf dengan berjalan kaki hukumnya sunnah. Namun, bagi jemaah yang tidak dalam kondisi uzur, para ulama’ berbeda pendapat. Ada yang tidak membolehkan thawaf dengan kendaraan dengan alasan hukum yang berlaku dalam thawaf sama dengan yang berlaku dalam salat. Kalangan Malikiyah dan Hanifiyah membolehkannya namun harus membayar dam karena berjalan kaki saat thawaf adalah wajib. Ada pula ulama yang membolehkan thawaf menggunakan kendaraan, antara lain diungkapkan oleh Imam Ibn Mundzir, dengan alasan Nabi sendiri pernah melaksanakan thawaf dengan mengendarai unta. Thawaf berkendaraan ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw ketika haji wada’. sebagaimana hadist berikut :


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : طَافَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى بَعِيرٍ، يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ


Artinya :

Dari Ibnu Abbas Ra berkata: Rasulullah Saw thawaf pada waktu haji wada’ dengan mengendarai unta sambil menyalami rukun Yamani dengan tongkat.  (HR. Al- Bukhari dari Ibnu Abbas ra.)

User Image SA’I

Pengertian Sa’i

Sa’i menurut bahasa artinya ‘’berjalan’’ atau ‘’berusaha’’. Menurut istilah, sa’i berarti berjalan dari shafa ke Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh kali yang dimulai dari shafa dan berakhir di Marwah, dengan syarat dan cara-cara tertentu.


Hukum Sa’i

Menurut Imam Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, sa’i adalah salah satu rukun haji dan umrah yang harus dikerjakan oleh jemaah haji; jika seseorang tidak mengerjakan sa’i maka ibadah haji dan umrahnya tidak sah. Sedangkan menurut Imam Hanafi, sa’i adalah salah satu wajib haji yang harus dikerjakan oleh jemaah haji; jika seseorang tidak mengerjakannya ia harus membayar dam. Menurut Ibn Mas’ud,  Ubay bin Ka’ab, Ibn Abbas, Ibn Zuhair dan Ibn Sirrin, sa’i itu hukumnya sunnah, dan tidak ada dam bagi yang meninggalkan.


Syarat Sa’i

1. Didahului dengan thawaf;

2. Dimulai  dari  bukit  shafa  dan  berakhir  di  bukit Marwah;

3. Menyempurnakan tujuh kali perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwah dan sebaliknya dihitung satu kali perjalanan;

4. Dilaksanakan di tempat Sa’i.


Sunah-sunah Sa’i

1. Setelah mendekati bukit shafa membaca:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّ الصَّفَا وَ الْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ, فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا، وَ مَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ.  "أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللّٰهُ بِهِ وَرَسُوْلُهُ."


2. Berjalan   biasa   di   antara   s}afa   dan   Marwah, kecuali di sepanjang lampu hijau, jemaah laki-laki disunatkan berjalan cepat (berlari- lari kecil); jemaah haji perempuan tidak disunahkan lari-lari kecil;

3. Saat naik ke bukit shafa menghadap Kiblat dan membaca:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ , اَللهُ أَكْبَرُ عَلٰى مَا هَدَانَا وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى مَا أَوْلاَنَا. لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ  وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ  وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.


4. Dalam  perjalanan  antara  shafa  dan  Marwah jemaah berzikir kepada Allah atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan berdoa untuk keselamatan dunia dan akhirat;

5. Mengerjakan sa’i secara berturut-turut (muwalat) tanpa berhenti kecuali ada uzur.



Sa'i bagi Jemaah Udzur

Bagi orang yang sehat, kuat dan mampu berjalan, sebaiknya sa’i dilakukan dengan berjalan kaki, sedangkan bagi yang udzur disebabkan lemah atau sakit, boleh dilakukan dengan digendong, menggunakan kursi roda atau naik  skuter  matik. Sa’i dengan berjalan kaki adalah sunnah menurut golongan madzhab Syafi’i, madzhab Maliki dan dalam satu riwayat madzhab Hambali. Sementara itu menurut madzhab Hanafi, sa’i dengan berjalan kaki hukumnya wajib dan apabila ditinggalkan wajib membayar dam. Berjalan kaki murupakan syarat sa’i menurut satu riwayat dalam madzhab Hambali dan Maliki. Sa’id Basyanfar, al-Mughni fi Fiqh al-Hajj wa al’Umrah, hlm. 234.


Sa’i boleh naik kendaraan berdasarkan hadits sebagai berikut:


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قال : طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لِيَرَاهُ النَّاسُ ، وَلِيُشْرِفَ ، وَلِيَسْأَلُوهُ فَإِنَّ النَّاسَ غَشُوهُ . رواه مسلم .


 Artinya;

Dari Jabir bin ‘Abdullah ra.  berkata; Nabi Saw ketika tawaf pada haji wada’ dengan menaiki tunggangannya , dan juga ketika sa’i di Safa dan Marwah, orang ramai melihatnya dan beliau dapat menyelia untuk mereka bertanya kepada beliau, maka sesungguhnya orang ramai mengerumuni beliau. (HR.Muslim dari Jabir ra.)


Apabila seseorang tanpa udzur melakukan sa’i dengan naik kendaraan maka hukumnya diperbolehkan dan tidak makruh, hanya saja ini menyelisihi yang lebih utama dan tidak ada kewajiban membayar dam atasnya.


Ketentuan Lain

Selain itu, ada beberapa ketentuan terkait dengan sa’i sebagai berikut :

1. Menurut jumhur ulama’, dalam sa’i tidak dipersyaratkan seseorang harus suci dari hadas besar dan hadas kecil;

2. Sa’i dikerjakan setelah tawaf ifadhah dan tawaf umrah;

3. Bagi jemaah yang melaksanakan haji ifrad dan qiran tidak perlu melakukan sa’i lagi ketika melakukan tawaf ifadhah jika ia telah melaksanakan sa’i setelah tawaf qudum;

4. Tidak ada sa’i sunat.

User Image WUKUF

Pengertian Wukuf

Menurut bahasa wukuf berarti berhenti. Menurut istilah, wukuf artinya berhenti atau berdiam diri  di  Arafah  dalam  keadaan  ih}rām  walau  sejenak dalam waktu antara tergelincir Matahari pada 9 Dzulhijjah (hari Arafah) sampai terbit fajar hari nahar 10 Dzulhijjah. Wukuf di Arafah termasuk salah satu rukun haji. Jemaah yang tidak mengerjakan wukuf di Arafah berarti tidak mengerjakan haji sesuai sabda Nabi SAW:


الحَجُّ عَرَفَةُ، مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الحَجَّ


Artinya :

Haji itu hadir di Arafah. Barangsiapa yang datang pada malam hari  jam’in (10 Dzulhijjah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia masih mendapatkan haji. (HR. At-Tirmidzi dari Abdurrahman bin Ya’mar RA).



Ketentuan Pelaksanaan Wukuf

Wukuf dilakukan setelah khutbah wukuf dan shalat jamak qashar taqdim Zuhur dan Ashar. Wukuf dilakukan dalam suasana tenang, khusyu’dan tawadhu’ kepada Allah. Wukuf dapat dilaksanakan secara berjamaah atau sendiri-sendiri. Selama wukuf, jemaah memperbanyak dzikir, istighfar, shalawat dan doa sesuai sunnah Rasulullah SAW. Dalam melaksanakan wukuf seseorang tidak dipersyaratkan suci dari hadas besar maupun kecil. Karena itu, perempuan yang sedang haidh atau nifas boleh melaksanakan wukuf. Jemaah haji yang sakit dan berada dalam perawatan di rumah sakit atau KKHI dan memungkinkan dibawa ke Arafah bisa melaksanakan wukuf lewat proses safari wukuf.